|
True Worshippers Jadi Bintang Tak Mesti Kompromi 08-20-2005 11:08
Oleh Marta Ringo
Kelompok musik rohani True Worshippers menggelar konser live recording di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta Selatan, Kamis (14/4). Acara digelar dalam rangka promosi album ketujuh berjudul ”Shine Like Stars”. Sebanyak 50 anggota paduan suara plus penari modern meramaikan konser ini.
Acara dihadiri ribuan penonton. Ini sebuah bukti, True Worshippers memang sedang menjadi bintang di blantika musik rohani. Para penonton datang dari berbagai denominasi gereja, rata-rata memang anak muda, tapi tak sedikit pula yang berusia dewasa.
”Saya suka banget lagu-lagu TW (True Worshippers) karena membangun rohani dan anak muda banget,” kata Philips, seorang penonton.
Yang pasti, hampir semua yang hadir di Balai Sarbini menikmati konser musik ini. Penonton di kelas festival paling heboh dan bersemangat. Ketika lagu menghentak dinyanyikan, mereka melompat-lompat sampai lantai Balai Sarbini bergoyang. Akibatnya, mereka ditegur panitia.
”Kalau kalian terlalu semangat bergoyang, gedung ini bisa runtuh,” canda Sidney Mohede, produser, komposer, sekaligus pemimpin pujian True Worshippers. Konser berakhir setelah dua jam. Itupun, sebagian besar penonton tak beranjak. Mereka berteriak-teriak, ”Lagi! Lagi!” Tapi, konser tetap harus berakhir.
Tema ”Shine Like Stars” alias bersinar bagai bintang-bintang dipilih untuk meneruskan kesinambungan tema album sebelumnya ”Take Us Higher”, album yang dirilis pada 2003 dengan angka penjualan mencapai 100.000 kopi.
Lewat album ini, True Worshippers juga hendak menyampaikan filosofi bahwa ketika Tuhan membawa kita ke tempat yang semakin tinggi dalam kehidupan, kita mesti bersinar bagi kehidupan banyak orang.
Matahari dan bintang merupakan sumber cahaya bagi kehidupan, maka seumpama bintang-bintang itulah kita seharusnya jadi sumber cahaya buat hidup orang lain. Atau dengan kata lain, jadilah generasi bintang yang bercahaya bagi dunia.
Terdengar berat bagi sebagian orang. Boro-boro bersinar bagi kehidupan orang lain, buat diri sendiri saja tak jarang sinar kita masih redup. Proses dari redup ke terang itu pula yang dibagi True Worshippers lewat 10 lagu di album ini, antara lain ”Hidupku Takkan Sama”, ”Shine Like Stars”, Kau Dambaanku”, dan ”Hatiku Percaya”.
Mereka bercerita tentang jatuh bangun mencapai posisi bintang tanpa kompromi dengan moralitas yang bergeser, hingga akhirnya diakui memberkati banyak orang. ”Zaman sekarang banyak hal yang harus dikompromikan demi mencapai posisi tertentu. Tetapi kami memilih menjalani hidup sesuai firman Tuhan,” kata Sari Simorangkir yang juga berposisi sebagai produser, komposer, sekaligus penyanyi.
Kontroversi Teruji Waktu
Di blantika musik rohani, tak banyak kelompok musik yang produktif sekaligus eksis di hati para penggemar. True Worshippers adalah pengecualian. Di usianya yang ke-7 tahun, grup musik yang digawangi 17 personel ini telah menelurkan tujuh album, antara lain ”04:23TW True Worshippers 2000”, ”TW#5 True Worshippers 2002”, dan ”Take Us Higher True Worshippers 2003”.
Formasi kelompok ini adalah Sari Simorangkir, Ruth Sahanaya, Sydney Mohede, Ucok Rajagukguk, Steve Tabalujan, Daniel Sigarlaki, dan Jeffry Hermanto. Ada pula Arvid Gunardi, Rensis Wenas, Amos Cahyadi, Adi Prasodjo, dan Pongky Prasetyo. Selain itu, Nindy Ellese, Bella Prasetyo, Lita Zein, Alvi Radjagukguk, dan Jussar Badudu.
Di awal kemunculannya pada 1997, kelompok musik ini sempat memicu kontroversi. Sebagian kalangan menyambut baik sebagai pencerahan musik rohani. Sebaliknya kubu lain menuding mereka sesat karena memasukkan alat-alat band dan celana jeans serta musik kontemporernya ke dalam gedung gereja.
Toh, perjalanan waktu membuktikan, True Worshippers malah membawa banyak orang tersesat kembali pada Tuhan lewat lagu-lagu mereka. Para personelnya pun dikenal sebagai orang-orang yang bisa dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka hadir untuk mengajak generasi muda untuk radikal dalam menjalani perintah Tuhan tanpa harus kehilangan jati diri sebagai anak muda yang kreatif dan penuh gaya.
True Worshippers juga disambut hangat di luar negeri. Sejak album pertama ”Penyembah Yang Benar” diluncurkan, respons terhadap gerakan ini ditanggapi secara luas di kota-kota di Eropa, Amerika, dan Australia melalui pelajar-pelajar Indonesia di sana.
Dalam rangka menjangkau kaum muda, True Worshippers juga sempat mengadakan gebrakan, yaitu Gospel Music Night di Cafe Jalan-Jalan (Jakarta) saban Senin malam. Meski demikian, True Worshippers belum berniat merambah dunia sekuler. ”Sejauh ini kami masih memilih jalur musik yang bersifat membangun spirit,” jelas Sydney.
Ketika ditanya apa yang membuat True Worshippers tetap bertahan hingga delapan tahun. ”Komitmen!” jelas Jussar Badudu. Meski semua anggota sibuk, tak satu pun dari mereka yang mangkir bila dijadwalkan latihan.
Menurut mereka, komitmen kuat seperti ini bisa lahir lewat tekad murni melayani Tuhan. True Worshippers juga tetap mengutamakan profesionalisme.
Dan yang tak kalah penting, semua personelnya selalu berusaha meningkatkan kemampuan mereka dalam hal musik dan olah suara. Mereka selalu mengikuti perkembangan semua aliran musik, termasuk yang sekuler, dan rajin berlatih vokal.
Maka tak heran kalau dalam salah satu albumnya mereka memasukkan unsur techno termasuk berkolaborasi dengan disc jockey. Dengan begitu, para Penyembah yang Benar ini bisa selalu diterima pecinta musik rohani dan membawa mereka menjadi penyembah Tuhan yang benar.
Penulis adalah pengurus di beberapa media rohani
Copyright © Sinar Harapan 2003
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0504/23/fea02.html
|